Ditulis pada tanggal 10 November 2016, oleh Asisten Microwave, pada kategori Berita

Sistem Transmisi Gelombang Mikro (Microwave)

Sistem transmisi gelombang mikro bekerja pada frekuensi UHF 300 MHz-30 GHz (pada umumnya 1-3 GHz) yang mempunyai panjang gelombang dalam ruang bebas antara 1 cm-1 m. sinyal gelombang mikro dipancarkan melalui lintasan lurus dari satu titik ke titik yang lain, dikenal dengan istilah ” lintasan garis pandang” atau  line of sight (LOS).  Stasiun yang digunakan, baik stasiun pemancar, penerima, maupun relai ditempatkan pada lokasi yang tinggi pada menara antena yang tinggi pula, agar transmisi dapat mencakup daerah LOS yang maksimum sehingga dapat diperoleh suatu lintasan gelombang yang bersifat langsung (direct signal path).
Propagasi LOS gelombang mikro menggunakan gelombang radio atau RF  (Radio Frequency), yang juga merupakan gelombang elektromagnetik. Komunikasi gelombang mikro dapat digunakan untuk komunikasi satelit maupun komunikasi  terestrial  yang merambat melalui atmosfer, sehingga efek atmosfer sangat mempengaruhi energi dan berkas gelombangnya. Redaman energi dan pemudaran berkas gelombang ini yang disebut dengan pemudaran (fading).
Sistem transmisi gelombang mikro terdiri atas dua macam yaitu sistem analog dan sistem digital. Sistem gelombang mikro analog menggunakan gelombang radio dengan modulasi FM (frequency Modulation), baik dengan sistem penjamakan  (multiplexing) frekuensi atau FDM (Frequency Division Multiplexing)  maupun waktu atau TDM  (Time Division Multiplexing). Sedangkan sistem  gelombang mikro digital menggunakan gelombang radio yang termodulasi digital PSK  (Phase Shift Keying),  atau modulasi QAM  (Quadrature Amplitude Modulation) dan penjamakan yang digunakan adalah TDMA (Time Division Multiple Access).
Sistem gelombang mikro digital dari konfigurasinya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
2.1. Point to Point Digital Microwave
Merupakan transmisi gelombang mikro digital yang terjadi antara satu titik dengan satu titik lain. Sistem ini  menggunakan antena parabola, sedemikian rupa sehingga gelombang yang dikirim memiliki perarahan  (directivity) yang tinggi dengan daerah berkas (beam area) yang sempit, yang dikenal dengan antene directional. Konfigurasi  point to point digital microwave  ditunjukkan pada Gambar 1.
 
2.2. Point to Multipoint Digital Microwave
Merupakan transmisi gelombang mikro digital yang terjadi antara satu titik  (master)  ke banyak titik (remote),  atau sebaliknya. Menara yang berfungsi sebagai  master dilengkapi dengan antena yang bersifat segala arah  (omnidirectional),  agar dapat menerima dan mengirimkan informasi ke  dari dan ke banyak arah, sehingga dapat menjangkau  ke daerah-daerah lokasi  remote yang luas. Sedangkan menara remote menggunakan antena terarah (directional), pada umumnya yang digunakan adalah berbentuk parabola.
Transmisi dengan jarak 30-60 km atau lebih digunakan repeater  sebagai  regenerator  sinyal, agar informasi yang diterima sesuai dengan data yang ditransmisikan. Transmisi pada area relatif sempit tidak membutuhkan  repeater  karena jarak antara pengirim dan penerima tidak terlalu jauh, pada keadaan ini variable jarak tidak banyak berpengaruh pada transmisi sinyal.
Master  dan  remote  masing-masing dilengkapi dengan modul radio dan multiplexer, yang selanjutnya dihubungkan ke piranti komunikasi seperti PABX (Private Automatic Branch Exchange) untuk layanan telepon, ke modem untuk transmisi data dan sebagainya. Konfigurasi dan diagram kotak  point to multipoint digital microwave   ditunjukkan pada Gambar 2 dan Gambar 3.
 
 
semoga bermanfaat