Berikut Adalah Beberapa Prestasi Terkait Kepala Laboratorium Transmisi dan Gelombang Mikro dan beberapa Produk Terkait Praktikum di Laboratorium Transmisi dan Gelombang Mikro

.

Souvenir Antena FT-UB Semakin Memikathdhdf

Suvenir antena multifungsi buatan dosen dan mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (JTE FT-UB), SONARAYA (Souvenir Antena Raja Brawijaya), semakin memikat konsumen. Peningkatan kualitas antena tidak hanya dari segi penampilan saja, tetapi didukung dengan performansi yang semakin mumpuni.

“SONARAYA terbaru berbentuk pot. Plat atau pemancarnya berbentuk bunga segi lima. Pot ini terbuat dari kayu asli ditambah dengan hiasan-hiasan, sehingga bila ditaruh di dalam rumah estetikanya lebih bagus,” kata anggota tim SONARAYA, Satrio Dimas Bagaskara, saat ditemui di gedung dekanat FT-UB, Rabu (20/Apr/2016).

Penampilan antena ini tidak hanya semakin cantik. Kualitas  Voltage Standing Wave Ratio(VSWR) atau kemampuan saluran terhadap gelombang juga semakin meningkat. Bila generasi SONARAYA sebelumnya VSWR berada di kisaran 1,6-1,7, saat ini sudah mencapai 1,3 atau semakin banyak tegangan listrik yang terpakai.

“Dengan adanya peningkatan performansi, berpengaruh terhadap channel yang didapat. Bila sebelumnya maksimal 21 channel, saat ini bisa mencapai minimal 23 channel. Ini belum ditambahkan amplifier atau booster ke perangkat,” kata asisten laboratorium telekomunikasi itu.

Peningkatan performansi ini didapatkan karena bentuk SONARAYA dioptimalkan mendekati bentuk lingkar sempurna dengan pola radiasi horisontal. Ground plane dan patch yang berfungsi sebagai pengalir sinyal listrik ke televisi juga dioptimalkan tim.

Dari awal diciptakan, antena SONARAYA ini telah menerima banyak pemesanan baik dari instansi pemerintah ataupun swasta. Namun untuk produksi massal, tim terkendala dengan proses produksi yang memakan waktu lama dan keterbatasan personel.

“Keinginan kami bila ada yang berkenan bisa diproduksi melalui UKM untuk memaksimalkan peran masyarakat. Untuk urusan desain dan optimalisasi biar kami saja yang menangani,” ujarnya.

Sementara itu, dosen pembimbing sekaligus perintis antena SONARAYA Rudy Yuwono, ST., M.Sc mengaku bangga dengan pencapaian SONARAYA hingga saat ini. Saat pertama diciptakan, antena ini menempati peringkat ke-3 PKM Kewirausahaan PIMNAS XXVI Mataram 2013 lalu.

“Dari beberapa kali kesempatan saya ke luar negeri, suvenir berbentuk antena ini adalah yang pertama di dunia. Kami bangga bahwa ini adalah ikon jurusan, fakultas, UB, bahkan Kota Malang,” katanya.

Bahkan dari ulasan pakar Entrepreneurship Education Universitas Waseda Jepang, Prof. Takeru Ohe, antena SONARAYA memiliki potensi yang luar biasa. Peluang bisnisnya sangat tinggi mengingat bentuk antena bisa dipesan sesuai keinginan konsumen. Sehingga, pangsa pasarnya tidak terbatas.

Beradasarkan keterangan Rudy, saat ini SONARAYA masih dalam tahap riset untuk digabungkan dengan Rectifier Antenna (Rectenna) sebagai penyerap bahaya radiasi gelombang elektro magnetik.

“Memanggang ayam membutuhkan daya 450 W selama 10 menit. Sedangkan daya yang dipancarkan sinyal GSM atau sinyal televisi sebesar 2W seumur hidup. Bisa dibayangkan kita seperti menerima efek terpanggang 1/225 ayam matang selama seumur hidup,” kata pakar Radar dan Navigasi ini.

Sinyal ini berkeliaran di sekitar kita sehari-hari. Dikhawatirkan sinyal ini berbahanya untuk kesehatan. Sehingga ke depan, diharapkan SONARAYA bisa menyerap atau mengurangi gelombang elektromagnetik yang tidak terpakai atau bahkan dimanfaatkan untuk menyalakan lampu LED. (and)

.

ersegrsRudy Yuwono, Pencipta Souvenir Pemancar Wifi Sekaligus Penerjemah Gambar TV

 

Dipesan Menteri BUMN Dahlan Iskan , Siap Produki Masal

Inovasi Rudy Yuwono seolah tak ada habisnya.Usai memproduksi Antena Radar yang dipakai pertahanan TNI, kini Rudy menciptakan suvenir multifungsi. Tampilannya menarik, juga bisa menjadi pemancar wifi (wirelees fidelity)  sekaligus penerjenih gambar televisi. Menteri BUMN Dahlan Iskan telah memesan agar diproduksi masal. MAHMUDAN

SIARAN televise di ruangan Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya  menyala . Tapi tidak ada ya ng menonton . Para dosen teknik elektro dan pegawai tata usaha berseliweran , tanpa menengok ke arah televise. Bukan  karena acara televise  tidak menarik . Tapi karena gambarnya  tidak jernih. Nyaris tak terlihat gambar dan jenis acara yang disiarkan, sehingga para dosen maupun petugas administrasi ogah menonton televisi.

Boleh jadi, televise hanya di nyalakan hanya di dengar suaranya saja. Ya, rabu (5/8) lalu, kebetulan tayangan yang disiarkan  televisi  adalah berita. Prinsipnya, kedengeran suarnya saja  sudah cukup. “Coba Anda lihat, gambarnya jelek kan? Mari kita pasang antenna  souvenir  ini,“ kata Rudy Yuwono sambil menyambungkan  kabel dari subenir antenna ke konektor televisi.

Siang itu, arah jarum jam menunjukkan pukul 12.30. Rudy mengajak Jawa Pos Radar Malang ruang dosen  untuk uji coba suvenir antenna. “Coba bandingkan saat menggunakan antenna biasa. Sekarang  gambarnya jenih kan?,” kata Rudy sambil memencet beberapa tombol remote untuk memindahkan tayangan dari chanel satu ke channel lainnya.

Ternyata hasilnya menakjubkan. semua channel yang dibuka, gambarnya beubah jernih. Untuk menguji kemampuan suvenir antenna, wartawan Koran ini memindahkan channel untuk memeriksa apakah tayangan di channel lain juga jernih, atau hanya beberapa channel saja yang jernih.

Ya, suvenir yang diciptakan Rudy memang bukan sembarang suvenir. Tapi suvenir multifungsi selain  tampilannya menarik karena mencantumkan logo UB, juga berfungsi menjernihkan gambar yang ditayangkan televisi sekaligus pemancar jaringan  wifi. Dengan suvenir  itu, bisa dibawa ke mana mana. Bentuknya lempeng berukuran sekitar  5×5 sentimeter

Ingin browsing data-data via internet ,cukup  bermodalkan suvenir . jika browsing di warnet fasilitas wifi   namun jaringan ngadat , bisa d tanggulangi dengan souvenir antenna. Jaringan yang awalnya lemot, dijamin lancer. “Selain pemancar wifi souvenir  ini juga bisa memperkuat jaringan wifi,” kata dosen antenna dan propagasi di jurusan teknik elektro  itu .

Di dunia elektro, nama Rudy cukup dikenal. Alumnus University of Kassel, Jerman itu  tergabung  dalam Asosiasi  Radar Indonesia (AsRI). Namun , souvenir antenna itu  tidak diciptakan Rudy seorang diri. Pria berusia 42 tahun itu berkolaborasi dengan mahasiswanya. Sebenarnya ada puluhan mahasiswa yang dilibatkan. Seluruhnya adalah muridnya di mata kuliah antenna, sehingga membentuk kelompok  Sonaraya. Nama kelompok itu  diambil dari singakatan Suvenir Antena Brawijaya (Sonaraya) .

Sebenarnya, tahun 2012 lalu sudah ada kelompok mahasiswa yang menciptakan antenna berfungsi ganda, yakni pemancar wifi sekaligus penerjenih gambar ditayangan televise. Antena itu sudah diikuti dalam program kreatifitas mahasiswa (PKM) Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) Ke –XXVI  di Universitas Mataram . Tapi antenna itu masih belum produk mentah dan belum dikreasikan, sehingga manfaatnya terbatas.

Rudy bersama kelompok mahasiswa Sonaraya mengkreasikannya menjadi suvenir. Bahan dan organ yang dipakai sama, yakni alumunium, kayu, dan konektor. Alumunium berfungsi menangkap gelombang elektromagnetik sebagai sumber penjernih gambar,jika dikoneksikan ke televisi. Jika difungsikan sebagai pemancar wifi fungsinya menangkap jaringan .

Agar hasil tangkapnnya maksimal, alumunium itu dibentuk  seperti lempengan, sehingga permukaannya luas. Kayu berfungsi sebagai  penyangga dan konektor menghubungkan ke televisi atau jaringan wifi. “Mau difungsikan sebagai antenna penjernih gambar atau pemancar wifi, ya tinggal diubah konektornya saja,” kata suami Aisyah, dosen Politeknik Negeri Malang (Polinema) itu.

Rudy dan mahasiswanya yang tergabung dalam Sonaraya tidak asal ngomong. Meski suvenir antena  televise sekaligus pemancar wifi itu baru diciptakan tahun 2013 lalu, namun sudah diuji cobakan. Beberapa tokoh nasional sudah memakainya. November 2013 lalu, menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan tertarik dengan suvenir antena tersebut. Saat itu, Dahlan Iskan berkunjung ke UB”  Melalui timnya, Pak Dahlan menyarankan agar suvenir antena ini diproduksi masal,” kata dosen yang merangkap Humas Jurusan Teknik  elektro  UB itu .

Dari saran pemilik Jawa Pos itulah, Rudy mengembangkan suvenirnya  untuk diproduksi masal. Sonaraya    yang awalnya diajak menciptakan suvenir, kini ditugaskan memasarkannya . Karena orientasinya bukan profit, yang diproduksi tidak banyak. Sonaraya hanya memproduksi belasan suvenir  sebagai contoh. Jika ada yang membeli dalam jumlah banyak, harus pesan dulu, lalu dibuatkan. Bahkan, mereka saat ini  sudah siap untuk memproduksi secara masal.

Saat ini sudah terjual 29 suvenir. Sebanyak 18 suvenir model gunungan, 8 unit suvenir berlogo UB, dan sisanya 3 unit berlambang jurusan elektro. Harga jual yang dipatok sangat  murah, yakni hanya Rp  150  ribu hingga Rp 175 ribu  per unit, biaya pembuatan per unit menghabiskan Rp 115 ribu,” kata Keynan Haqi, ketua Sonaraya.

Harga bervariatif lantaran disesuaikan model suvenir . Berlogo UB paling mahal karena pembuatnnya paling sulit dan lempengann alumuniumnya lebih besar , sehingga menghabiskan bahan. Sementara model gunungan wayang lebih murah karena bentuknya lebih kecil. “Kami sudah mendapat pesanan dari perusahaan souvenir,” kata  mahasiswa semester 6 jurusan teknik elektro itu. (*/cl/abm).

.

fgnngfnghAntena Multifungsi, Bisa untuk TV, Satelit, Hingga Wi-Fi

Antena ternyata bisa menjadi multifungsi. Tidak sekadar sebagai pemancar siaran TV, tapi masyarakat juga bisa memanfaatkannya sebagai  pemancar radar, Wi-Fi, hingga pemancar satelit di udara. Wow, banyak fungsi dalam satu produk.

Rudy Yuwono, ST, M.Sc, dosen Fakultas Teknik Univertitas Brawijaya inilah yang berhasil menciptakan temuan antena multifungsi ini. “Dengan basis Ultra Wide Band (UWB), sehingga antena memiliki jangkauan frekuensi sangat lebar,” ucapnya menjelaskan tentang basic program yang dibuat untuk produk antena ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dengan produk ini, masyarakat tidak perlu lagi memakai antena terpisah untuk mendapatkan manfaatnya. “Sekarang ini masyarakat menonton TV dengan antena yang memancar sendiri, jika ingin memakai WI-FI juga ada alatnya sendiri, kalau dengan antenna ini bisa merasakan semua layanan itu sekaligus,” urainya.

Ia mengharapkan dengan hasil risetnya tersebut, ia bisa membantu masyarakat baik secara individu ataupun kelompok, misalkan instansi, untuk bisa lebih efisien dalam menggunakan sistem telekomunikasi. Dari skala sempit hingga luas dalam satu jangkauan. Karena itulah, ia berharap hasil risetnya ini bisa ditindaklanjuti dan tetap mendapat perhatian dari Kemenristek untuk bisa menghasilkan produk yang sesungguhnya.  Sehingga nantinya dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

“Biaya riset ini sekitar Rp 50 juta. Dana itu dari PUPT penelitian unggulan dari Kemenristek Dikti,” paparnya.

Melalui temuannya ini Rudy juga berhasil meraih penghargaan dari LPDP Kemenkeu Pusat. Penghargaan bergengsi itu berhasil ia dapatkan karena hasil risetnya dinilai memberikan kontribusi serta pengaruh bagi dunia akademisi dan praktisi di Indonesia. Melalui situs jurnal internasional scopus.com ia mempublikasikan paper jurnal penelitiannya, dan menurut tim juri LPDP-Kemenkeu layak untuk didanai lebih lanjut.

Rudy pun satu-satunya akademisi di Kota Malang dengan berlatarbelakang magister yang mendapatkan pendanaan riset. “Beberapa akademisi lain dari Kota Malang semua bergelar doktor atau sedang menempuh program doktoral,” kata Rudy menjelaskan sambil menunjukkan data yang tertera di web LPDP-Kemenkeu.

Lebih lanjut ia menjelaskan, ada 4.000 pengunggah yang berebut pendanaan dari LPDP tersebut. Setelah diseleksi, lalu dikerucutkan mejadi 473 di seluruh Indonesia. “Makanya saya juga masih belum percaya bisa berhasil meraih penghargaan itu,” ungkapnya pada Malang Post.

Rudy pun mendapatkan uang tunai Rp 100 juta dari dua paper jurnal yang diunggahnya di situs jurnal scopus.com. Pria kelahiran Blitar Jawa Timur ini mengungkapkan, salah satu faktor yang membuat paper jurnalnya bisa meraih penghargaan pendanaan dari Kemenkeu adalah karena telah dijadikan referensi internasional. ”Ada total 10 kutipan internasional yang menjadikan jurnal saya sebagai referensi,” jelasnya dengan bangga.

Pria yang juga menjabat sebagai Kabag Humas FT UB ini mengaku tidak mudah untuk bisa masuk dalam unggahan situs jurnal internasional.  ”Karena jangkauannya global, jadi amat banyak yang ingin memasukkan karyanya. Satu riset bisa menunggu seharian, kadang juga gagal,” ujarnya.

Rudy membutuhkan waktu hingga satu tahun lebih untuk masing-masing riset.  ”Jadi total selama dua tahun saya melakukan riset.  Selama itu, kendala terbesar yang saya hadapi adalah fasilitas laboratorium yang kurang memadai,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalamannya tersebut, Rudy pun membangun laboratorium di sekitar rumahnya di daerah Perum Joyogrand untuk digunakan sebagai penelitian antena. “Saya ingin memudahkan bagi pelaku industri ataupun peneliti terkait tentang antena. Mereka bisa memanfaatkan laboratorium yang saya buat ini,” pungkas pria yang menempuh pendidikan magister di Universitas Kassel Germany ini. (mgb/han/red mic)

Sumber : http://www.malang-post.com/features/antena-multifungsi-bisa-untuk-tv-satelit-hingga-Wi-Fi